Tafsir Al-Fatihah : ayat ke-4

Pendiri Madarif Institutie Ustadz Arifin Nugroho. S.H.I, Lc. MA/Foto:Dokumen Pribadi
Pendiri Madarif Institutie Ustadz Arifin Nugroho. S.H.I, Lc. MA/Foto:Dokumen Pribadi

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Pemilik hari pembalasan”

Firman Allah مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ menurut Fakhruddin al-Razi (606 H) dalam kitab tafsirnya Mafatihul Ghaib, mengingatkan manusia bahwa hidup di dunia ini hanyalah sebuah perjalanan panjang menuju akhirat. Sepanjang perjalanan itu, manusia menyaksikan berbagai tanda dan keajaiban ciptaan Allah di langit dan bumi. Yang mana seharusnya menyadarkannya bahwa keagungan dan kebahagiaan akhirat tentu jauh lebih besar dan mulia. Maka ayat ini juga menjadi isyarat adanya kebangkitan, hari pengumpulan, dan pembalasan amal di akhirat.

Menurut Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim karya Ibnu Katsir (774 H) penyebutan Allah sebagai “Pemilik pada Hari Pembalasan” tidak bermakna bahwa Dia tidak memiliki selain hari itu, sebab sebelumnya sudah ditegaskan bahwa Dia adalah Rabb al-‘alamin (Al-Fatihah: 2) yang mencakup seluruh dunia dan akhirat. Namun, kepemilikan itu secara khusus dikaitkan dengan hari kiamat karena pada saat itu tidak seorang pun berani mengaku memiliki sesuatu atau berbicara kecuali dengan izin-Nya. Sebagaimana firman Allah:

Baca Juga:  Kesombongan dan Ujub Oleh Ustadz Arifin Nugroho. S.H.I.,Lc, MA

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
“Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan perkataan yang benar.”
(an-Naba’: 38).

Sedangkan kata ad-Din sendiri bermakna pembalasan dan perhitungan amal. Allah berfirman:

Baca Juga:  Menjenguk Orang Sakit: Keutamaan dan Adabnya dalam Islam

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ
“Pada hari itu Allah akan memberi mereka balasan agama mereka yang sebenar-benarnya.”
(an-Nur : 25).

Makna ini ditegaskan pula dalam hadis Nabi ﷺ
“الكَيِّسُ مَن دانَ نفسَهُ وعملَ لما بعدَ الموتِ”.
“Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi).

Umar bin Khattab ra. menasihati:
“حاسِبوا أنفُسَكم قبلَ أن تُحاسَبوا، وزِنوا أنفُسَكم قبلَ أن توزَنوا، وتأهَّبوا للعرض الأكبر على من لا تخفى عليه أعمالكم.”
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiaplah menghadapi hari perhitungan agung di hadapan Allah yang tidak ada satu pun amal perbuatan kalian tersembunyi dari-Nya.”

Baca Juga:  Tafsir Alfatihah: Bacaan Basmalah (ayat ke-1)

Hal ini sesuai dengan firman Allah:
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu akan dihadapkan (kepada Allah), dan tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi.”
(al-Haqqah : 18).

Disarikan dari kitab Tafsir Mafatihul Ghaib  dan Al-Qur’an Al-Adzhim

Madarif Institute

Youtube: Madarif Institute

Instagram: @madarifinstitute
Web: madarifinstitute.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *