Bertepatan dengan momen Hari Santri, ada satu kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an tentang perjalanan seorang murid yang mencari ilmu dan bimbingan. Kisah itu bukan tentang santri di pesantren, melainkan tentang Nabi Musa yang menjadi murid dari seorang guru penuh hikmah, yaitu Nabi Khidir AS. Dalam perjalanan itu, Nabi Musa belajar tentang makna kesabaran, kerendahan hati, dan ketaatan kepada gurunya.
Pada pertemuan pertama, Nabi Musa meminta diajari setetes ilmu dan hikmah dari samudera kebijaksanaan Sang Guru, Nabi Khidir. Alih-alih langsung menerima dengan tangan terbuka, Nabi Khidir justru berkata, “ Sesungguhnya Engkau (wahai Musa) tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” ( QS Al Kahfi : 67-68)
Namun, Nabi Musa tetap berjanji untuk menjadi murid dari Nabi Khidir. Musa berkata, “ InsyaAllah engkau akan mendapatkan aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun. ” ( QS. Al-Kahfi : 69 )
Akhirnya, Nabi Khidir menerima Nabi Musa sebagai muridnya, namun dengan satu syarat yang berat: jangan bertanya apa pun sebelum dia sendiri menjelaskan maksud dari setiap perbuatannya. Nabi Khidir berkata, “Sekiranya kamu mengikutiku, maka janganlah kamu bertanya kepadaku akan sesuatu pun, sehingga aku menceritakan hal yang sama kepadamu.” (QS. Al-Kahfi : 70)
Perjalanan bahtera ilmu pun dimulai dengan penuh semangat. Di tengah pengembaraannya menuntut ilmu, Nabi Khidir melakukan tiga hal yang membuat Nabi Musa terkejut dan bertanya-tanya, yaitu:
1. Melubangi Perahu Milik Sekelompok Nelayan Miskin
Di tengah perjalanan, tanpa diduga Nabi Khidir membocorkan sebuah perahu yang digunakan oleh nelayan untuk mencari nafkah. Sontak Nabi Musa terkejut dan merasa marah. ” Mengapa kamu membolongi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, kamu telah melakukan suatu kesalahan yang besar .” (QS. Al – Kahfi : 71) Kemudian Nabi khidir berkata, “ Bukankan sudah aku katakan bahwa sebenarnya kamu tidak akan mampu bersabar bersamaku?” ( QS. Al-Kahfi : 72)
2.Membunuh Seorang Anak Kecil Tanpa Alasan yang Tampak
Setelah peristiwa dengan perahu, Nabi Musa kembali terkejut dengan tindakan gurunya. Kali ini, Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil yang tampak tidak bersalah. Melihat hal itu, Nabi Musa tidak bisa menahan diri dan merasa sangat keberatan. “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih padahal ia tidak membunuh orang lain? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” kata Nabi Musa dengan penuh kebingungan dan kesal. Bagi Nabi Musa, tindakan ini jelas tidak bisa diterima. Namun, seperti kejadian sebelumnya, Nabi Khidir tetap tenang dan menjawab “Bukankan sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi : 75)
3. Menegakkan Kembali Sebuah Dinding Rumah Milik Dua Anak Yatim di Desa yang Tidak Mau Menjamu Mereka
Peristiwa berikutnya yang tak kalah mencengangkan bagi Nabi Musa terjadi ketika mereka melewati sebuah desa. Di sana, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk desa menolak memberikan jamuan. Saat itu, Nabi Khidir melihat sebuah bangunan yang hampir roboh, lalu ia menegakkannya kembali. Melihat hal tersebut, Nabi Musa berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” (QS. Al-Kahfi: 77)
Tiga peristiwa di atas menjadi ujian yang nyata bagi Nabi Musa dalam pengembaraannya mencari ilmu dan hikmah. Apa yang dilakukan gurunya tampak tidak masuk akal, bahkan seolah bertentangan dengan nurani. Menanggapi ketidakpahaman Sang Murid, akhirnya Nabi Khidir memberikan penjelasan yang menyadarkan Nabi Musa bahwa segala tindakan yang tampak aneh atau tidak dapat dipahami secara langsung, memiliki hikmah yang lebih besar di baliknya. Beliau menjelaskan bahwa setiap peristiwa yang terjadi, meskipun pada awalnya terlihat merugikan atau membingungkan, sesungguhnya dilakukan untuk menghindari kerusakan yang lebih besar di masa depan. Melalui tiga peristiwa ini, Nabi Khidir mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki tujuan yang lebih besar, yang hanya bisa dipahami dengan pengetahuan yang lebih dalam.
Pertama, Nabi Khidir membocorkan perahu yang mereka naiki untuk menghindari perahu tersebut jatuh ke tangan raja yang zalim yang akan merampasnya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Adapun perahu itu, adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku bermaksud merusaknya karena di depan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.” (QS. Al-Kahfi: 79).
Kedua, Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil karena anak tersebut kelak akan menyebabkan orang tuanya yang beriman kepada kekafiran. Penjelasan ini tercantum dalam ayat, “Adapun anak itu, maka dia telah membuat orang tuanya menjadi kafir, maka kami ingin Tuhan mereka menggantikan mereka dengan yang lebih baik kesuciannnya dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 80-81)
Terakhir, Nabi Khidir
membangun kembali dinding sebuah rumah yang hampir roboh milik dua anak yatim, karena di bawahnya terdapat harta yang akan berguna bagi mereka ketika dewasa, sebagaimana dijelaskan dalam ayat, “ Dan adapun dinding itu, adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan di atasnya terdapat harta bagi keduanya, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan mengeluarkan harta mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu.” ( QS. Al-Kahfi : 82)
Di akhir kisah, Nabi Khidir menjelaskan kepada Nabi Musa bahwa segala tindakan yang dilakukannya bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan semata-mata atas petunjuk dan kehendak Allah. Semua kejadian yang tampak aneh bagi Nabi Musa pada awalnya, ternyata memiliki hikmah yang sangat dalam, yang hanya dapat dipahami setelah diberi penjelasan oleh Nabi Khidir.
Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa sebagai murid, kita harus memiliki kesabaran, ketulusan, dan kepercayaan penuh kepada guru. Meskipun tindakan atau pengajaran guru terkadang sulit untuk dipahami, kita sebagai murid harus percaya bahwa setiap ajaran yang diberikan memiliki tujuan yang lebih besar yang akan kita pahami pada waktunya.
Selain itu, kisah ini mengajarkan kita bahwa seorang guru, seperti Nabi Khidir, tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang penuh hikmah. Sebagai murid, kita harus siap menerima ilmu dari guru dengan hati yang terbuka dan penuh rasa syukur, karena ilmu yang diberikan adalah petunjuk dari Allah yang membawa kebaikan bagi kehidupan kita.
Wallahu subhanahu wa ta’la a’lam
Institut Madarif
Youtube: Madarif Institute
Instagram: @madarifinstitute
Web: madarifinstitute.org




