BANDUNG, Jurnaloka.com – Presiden Prabowo Subianto secara terbuka membeberkan standar ketatnya dalam mengawasi Kabinet Merah Putih. Berbicara di hadapan wisudawan UKRI di Bandung, Sabtu, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa ia menerapkan kebijakan “tiga kali peringatan” sebelum seorang menteri dipastikan didepak dari jabatannya, atau di-reshuffle.
Prabowo menceritakan, mayoritas menterinya adalah sosok yang hebat, namun selalu ada “satu-dua menteri yang nakal”.
“Kalau ada satu, dua (menteri) nakal, saya peringati ya kan. Satu kali peringatan, masih nakal, masih enggak mau dengar, dua kali peringatan, tiga kali apa boleh buat reshuffle,” tegas Presiden Prabowo.
Presiden menekankan bahwa pergantian menteri adalah keharusan demi kepentingan bangsa dan rakyat. “Tidak boleh ada rasa kasihan, yang kasihan rakyat Indonesia,” tambahnya.
Dadan Hindayana Jadi Contoh Kejujuran Anggaran
Dalam sambutannya, Prabowo juga memberikan apresiasi tinggi kepada Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana. Dadan disebut telah mengembalikan anggaran sebesar Rp70 triliun dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena khawatir dana tersebut tidak akan terserap hingga akhir tahun.
Prabowo menggunakan kasus ini untuk menggarisbawahi godaan korupsi, di mana Dadan seharusnya bisa saja menyuruh anak buahnya membuat proyek fiktif untuk menghabiskan dana jumbo tersebut.
Bahkan, Presiden mengaku seringkali memberikan anggaran lebih dari yang diminta oleh para menterinya.
“Boleh tanya menteri-menteri dan anak buah saya, kadang-kadang mereka minta, ‘Kami butuh anggaran ini Pak. Berapa kau butuh? Saya butuh (Rp) 5T (triliun), saya kasih 10 (triliun).’ Bayangkan kapan ada Presiden kayak begitu,” ungkap Prabowo yang disambut riuh.
Tak Peduli Dibenci, Siap Lawan Koruptor Pembayar Demo
Dalam penutupannya, Prabowo melontarkan pernyataan paling kontroversial terkait ancaman politik yang ia hadapi. Presiden mengaku tidak gentar menghadapi mantan menteri yang mungkin membencinya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan pernah diperingatkan bahwa ada pihak koruptor yang memiliki dana besar dan berpotensi “membayar demo” untuk menjatuhkannya.
“Saya dikasih peringatan, ‘Pak hati-hati loh, Pak. Mereka uangnya banyak, mereka bisa bayar demo.’ Enggak ada urusan, yang penting rakyat Indonesia mendukung saya, saya tidak ragu-ragu,” tutup Presiden Prabowo.
Pernyataan ini menggarisbawahi tekad Kepala Negara untuk melawan korupsi, bahkan jika ancaman datang dari pihak-pihak berduit yang berusaha memobilisasi protes publik.[Jurn/POL]








