وَعَنْ الأَوْزَاعِيِّ قَالَ: كَتَبَ إِلَيْنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ رِسَالَةً، أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّهُ مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ، رَضِيَ مِنَ الدُّنْيَا بِالْيَسِيرِ، وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ، قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا فِيمَا يَنْفَعُهُ، وَالسَّلَامُ.
Dari al-Awzā‘ī, ia berkata: “Umar bin Abdul Aziz pernah menuliskan surat kepada kami, yang isinya:
Amma ba‘du, sesungguhnya siapa yang banyak mengingat kematian, ia akan merasa cukup dengan sedikit dari dunia. Dan siapa yang menghitung setiap ucapan dengan amalnya, maka ia akan sedikit berbicara kecuali yang bermanfaat. Wassalām.
PENJELASAN
Pesan ini mengajarkan kita sebuah rahasia untuk meraih hati yang tenang dan hidup yang lapang. Kuncinya terletak pada dua hal yang saling terkait: banyak mengingat kematian dan menghitung ucapan dengan amal.
Ketika kita sungguh-sungguh menyadari bahwa kematian adalah kepastian yang akan menjemput kita, maka dunia dan segala isinya tiba-tiba terasa kecil. Hati kita tidak lagi mudah gelisah oleh keinginan semu yang tidak ada henti. Kita menjadi rela dan bersyukur dengan rezeki yang ada, betapapun sederhananya, karena fokus kita telah berpindah dari kefanaan dunia kepada kehidupan akhirat yang kekal. Dari hati yang sudah “lapang” inilah, lahir tutur kata yang terjaga. Kita akan bersikap seolah-olah setiap kata yang kita ucapkan adalah amal yang akan dihisab. Kesadaran ini akan menjadi penjaga lidah kita secara alami, membuat kita hanya berkata yang baik, benar, dan bermanfaat.
Madarif Institute
Youtube: Madarif Institute
Instagram: @madarifinstitute
Web: madarifinstitute.org




